Lanjut ke konten

(Calon) Pesawat Tempur Baru TNI-AU

Februari 15, 2010

Setelah penantian lama dan melalui proses yang cukup alot, pemerintah RI menyetujui usulan TNI-AU untuk membeli satu skadron EMB-314 Super Tucano dari Brasil. Pesawat dari negeri Samba tersebut berhasil mengalahkan rival-rivalnya terkuatnya dari RRC (K-8) dan Korea Selatan (KO-1). Memang banyak parameter pengujian dan evaluasi untuk menguji ketiga pesawat ini dari spesifikasi teknis sampai dengan harga. Dari informasi yang didapatkan dari alutsista.blogspot.com, Tucano unggul karena harga pesawat yang reasonable dan biaya perawatan yang murah.

Pesawat berawak dua ini didatangkan untuk menggantikan pesawat OV-10 yang sudah dikandangkan karena serangkaian kecelakaaan. OV-10, yang memiliki nama Bronco, didatangkan pada tahun 1976 dan sudah berpindah-pindah penugasan: dari Skadron 1 dan terakhir masuk dalam Skadron 21. Bronco juga berawak dua dan berfungsi sebagai pesawat anti-gerilya (COIN/Counter-Insurgency). Perbedaan yang paling mendasar adalah OV-10 memiliki dua buah mesin turboprop sedangkan EMB-314 satu. Kalau soal peralatan navigasi, Super Tucano sudah menganut “glass cockpit” yang serba digital.

Pesawat yang akan ditempatkan di Tarakan, Kalimantan Timur ini sudah dipakai banyak angkatan udara yang sebagian besar berada di Amerika Selatan, a.l. Dominika, Chili, Venezuela dan Ekuador. Bentuk pesawat yang streamline tapi “gahar” memiliki under wing pylons yang mampu membawa persenjataan yang cukup untuk membuat tentara musuh di darat kocar-kacir. Hal ini, menurut pengamatan penulis, salah satu faktor penilaian lebih dari Tucano yang sudah “proven”.

Setelah OV-10, ada lagi pesawat yang harus diganti yaitu pesawat latih H.S. Hawk Mk 53 yang ditempatkan dalam Skadron 15, Madiun. Pesawat latih yang banyak dipakai banyak negara ini merupakan pesawat yang handal. Namun, karena airframe yang sudah uzur, TNI-AU mempertimbangkan untuk menggantinya di tahun 2011. Kami, sebagai pemerhati pertahanan dan keamanan, berpendapat bahwa penggantian ini sudah mendesak karena pilot-pilot tempur calon penunggang F-16, F-5E/F, Su-27/30, sangat tergantung dengan pesawat latih.

Setelah mendatangkan keluarga Sukhoi yang notabene pesawat tempur generasi ke-4, tidak bisa tidak TNI-AU harus memliki pesawat latih yang memiliki kriteria LIFT (lead-in fighter trainer). Hawk Mk 53, yang berteknologi tahun 60-70an sudah tentu tidak dapat lagi memenuhi kemajuan teknologi penerbangan. Calon-calon penggantinya sudah menjadi pertimbangan TNI-AU: L-159B (Ceko), Yak-130 (Rusia), T-50 (Korsel) dan FTC-2000/JL-9 (RRC). Pesawat mana yang akan dipilih? Jawabannya ada di TNI-AU yang sedang menggodoknya.

Sangat seru mengikuti proses modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI kita. Setelah alutsista TNI yang sudah tidak berkutik karena embargo dan keterbasan anggaran, negara kita berusaha mendatangkan alutsista baru setelah desakan rakyat. Embargo persenjataan yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya karena buruknya citra HAM Indonesia di mata mereka, membuat TNI lemah dalam kesiapan. Oleh karena itu, dalam pengadaan pesawat tempur, Indonesia sudah berpaling dari AS dan mencari sumber-sumber penyedia senjata lain seperti Brasil, Ceko, Rusia dan Cina.

RRC, sebagai negara berkekuatan militer yang cukup besar merupakan negara penyuplai peersenjataan yang patut diperhitungkan. Salah satu contohnya adalah pesawat temput F-7P “Skybolt” yang merupakan tiruan dari MiG-21, banyak dipakai oleh angkatan-angkatan udara berkantong tipis seperti Zimbabwe, Bangladesh dan Pakistan. Dari segi teknologi dan harga, produk senjata buatan RRC sudah dapat memenuhi kriteria negara-negara yang membutuhkan kekuatan esensial yang minimal untuk pertahanan keamanan.

Dari pandangan penulis, penting bagi TNI-AU untuk mempertimbangkan senjata buatan RRC. Setelah senjata pertahanan udara QW-3 (rudal jinjing) milik TNI-AU dan Giantbow milik TNI-AD, bukan tidak mungkin FTC-2000/JL-9 “Mountain Eagle” masuk dalam jajaran Skadron 15 TNI-AU. Sebagai negara berkembang yang ingin melepas ketergantungan dengan negara Barat dalam persenjataan, penting bagi kita untuk mengadakan alih teknologi persenjataan dari negara-negara yang sudah piawai membuat senjata. Senang rasanya mendengar negara-negara lain seperti Malaysia yang tertarik pada panser Anoa buatan PT. Pindad atau Uni Emirat Arab yang sudah membeli CN-235 buatan PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI). Tidak sabar rasanya menunggu bahwa nantinya PT. DI dapat memproduksi Su-27/30 untuk keperluan dalam negeri dan ekspor.

Di akhir kata, sebagai pemerhati dirgantara dan angkatan bersenjata, kedatangan Tucano dan tambahan Sukhoi Su-27 SKM (Oktober 2010) merupakan angin segar di tengah terengah-engahnya TNI kita dalam mengejar ketertinggalan teknologi dan keterbatasan anggaran. Namun, kita jangan selalu tergantung dengan negara-negara penghasil persenjataan tapi kita juga harus dapat berdiri di atas kaki sendiri. Momen ini harus dijadikan saat yang tepat untuk belajar alih teknologi persenjataan canggih.

About these ads
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: